Yogyakarta, 16 Spetember 2025
Malam menutup dirinya dengan lembut, menebar sunyi ke jalan kecil yang terlelap. lampu-lampu jalan berdiri sebagai penumpang abadi, memandikan aspal dengan cahaya kuning yang redup, seperti pelukan hangat yang terlambat datang. bayangan rumah-rumah berjejer rapi, namun masing-masing menyimpa rahasia sendiri; pintu tertutup rapat, jendela hanya memantulkan kilau cahaya, seakan semua yang hidup di dalamnya sudah menyerahkan diri pada mimpi.
Tapi di luar, ada satu jiwa yang maih terjaga.
Aku.
Aku berjalan di sepanjang jalan ini dengan langkah hati, bukan kaki. Setiap derap terasa seperti mengetuk pintu waktu, mengundang kembali kenangan yang telah pergi. Angin malam menggoda, menyapu kulit dengan dingin yang samar, membawa bisikan yang tak jelas apakah itu doa, atau sekedar gema rindu yang ingin mendekapku lebih erat.
Kau ke mana?
Tiga kata itu berulang dalam benakku, menari seperti mantra.
Kau ke mana?
Mereka jatuh, pecah, lalu kembali utuh. Berubah jadi doa yang melayang ke langit, mencari bintang yang mungin mengerti.
Aku membayangkan dirimu berjalan di sisi jalan ini. rambutmu digoda angin malam, langkahmu tenang, matamu mencari-cari sesuatu yang hilang. barangkali kau pun merindukan, barangkali tidak. Namun di setiap bayangan yang kuciptakan, kau selalu ada- seperti cahaya lampu yang tak bisa kupadamkan meski kupejamkan mata.
Sepi ini bukan sekedar kekosongan. ia punya wajah, punya suara. Wajahnya adalah rinduku padamu; suara adalah detik jam yang tak henti berputar, menegaskan jarak yang tak terukur. dan di antara semua itu, aku menemukan diriku sendri: seseorang yang menunggu, bukan karena janji, tapi karena cinta yang terlalu tulus untuk dilepaskan.
Jika kau tahu, betapa malam ini begitu panjang tanpa kabar darimu. Betapa setiap notifikai yang muncul di layar ponsel adalah dentuman harapan kecil, yang seringkali hancur karena bukan darimu. Aku tetap menunggu, tetap berharap, seakan menulis surat tanpa alamat, berharap angin akan mengantarnya padamu.
Malam ini, jalan ini, lampu-lampu ini, semua adalah puisi yang diam-diam menuliskan namamu. Dan aku hanyalah pembaca setia, yang terus membisikkan bait-bait rindu, meski tak tahu apakah kau sempat mendengarnya.
Bila suatu saat kau kembali menapaki jalan ini, ingatlah: ada satu hati yang tak pernah pergi. ia tetap berdiri di antara cahaya lampu jalan, tetap menunggu di bawah bayangan pagar, tetapi mengirimkan doa pada bintang.
Hingga akhirnya, aku tak lagi bertanya kau ke mana.
Karena aku tahu, dalam setiap malam yang hening seperti ini, jawabanmu selalu ada di udara: bahwa aku hanya ingin menyampaikan kata yang hanya memuaskan aku sendiri.

Komentar
Posting Komentar